Minggu, 31 Mei 2015

Ketika Rokok Jadi Sahabat Pelajar


Ketika Rokok Menjadi Sahabat Pelajar

 




Cerita ini berawal dari saat saya sedang menempel ban becak di sebuah bengkel yang berada di jalan Joshua , daerah serdang. Kota medan. hari itu ban becak saya bocor , maka saya memutuskan mendorongnya menuju kebengkel dan menambal ban becak saya tersebut disebuah bengkel. Dan kebetulan bengkel itu terletak berhadap hadapan dengan sebuah sekolah swasta yakni sekolah Perguruan YB Joshua. Ketika saya sampai di lokasi bengkel, saya dapati bengkel di ramekan (dijadikan tempat nongkrong) oleh beberapa pelajar SMP dan SMA sekolah YB Joshua terebut.

 

 

 

Rata rata mereka disana adalah siswa kelas 3 yang telah selesai melaksanakan UN, nah karena jadwal pelajaran yang sudah kosong, mereka dizinkan pulang lebih dini oleh guru guru mereka. Nah mereka bukannya pulang tapi malah nongkrong di sekitar bengkel yang pemiliknya seorang keturunan tionghoa, “Acik”  seperti itu biasanya Saya memanggil nya.  Nah ketika Saya hendak menambal ban becak yang meletus. Saya harus menunggu lama agar dilayani. Saya pun menunggu , karena Saya lihat acik begitu sibuk meladeni anak anak SMA dan SMP yang berbelanja di kios kecil miliknya. Dan ternyata mereka semua berbelanja rokok. Dan acik pun hanya menjual rokok di bengkel sepedanya.

 

 

Saya yang mendapatinya merasa ganjil. Saya terus memperhatikan, kok acik ini bisa semabarangan menjual rokok kepada pelajar yang belum cukup umur. Terus kok pihak pengawas sekolah atau bahkan satpam atau bahkan guru guru tidak ada yang memperhatikan hal ini. Hampir semua muri murid yang nongkrong dibengkel adalah perokok. Dan diantara mereka ada yang merupakan perokok berat, bisa dilihat dari bibirnya yang hitam kebiru biruan dan gigi yang kuning. Melihat kondisi ini saya hanya bisa gelen geleng kepala.

 

 

Saya bertanya pada diri saya sendiri saat itu, apakah sudah begitu rusak kah generasi muda indonesia ? sehingga mereka dengan mudahnya merokok dengan bebasa tanpa ada rasa takut dan segan merokok di depan orang dewasa. Ini sebuah kontradiksi yang sangat kontradiktif menurut saya. Lihatlah  beberapa point ini.

1.        Mereka semua pelajar SMP dan SMA , nah rata rata mereka umur 13 sampai dengan 18 tahun. Mereka sudah menjadi perokok aktif.

2.       Mereka tidak lagi merokok sembunyi sembunyi, tepat didepan sekolah mereka merokok, dan lagi lagi guru guru mereka tidak peduli dengan ini.

3.       Apakah mungkin guru guru tidak tahu kalau murid muridnya tidak merokok..? Dulu dijaman saya sekolah, ketika ada sebagain teman saya merokok dnegan sembunyi sembunyi didalam toilet. Dan jika ketahuan apa lagi oleh siswa perempuan, pasati mulut mereka nyanyi sampai keruang guru dan di berilah hukuman.

Nah bagaimana mungkin disekolah yang sebegitu besar tidak ada satupun siswa yang melaporkan tindakkan teman temannya kepada guru mereka ...? kemana para siswi wanita yang biasa bawel dan suka melaporkan kebandelan laki laki kepada gurunya. Apakah bagi kawan kawan mereka merokok dengan seragam sekolah, di usia muda, didepan umum sudah merupakan sesuatu yang lumrah ..? sesuatu yang biasa saja...? sehingga mereka merasa tidak perlu melaporkan perihal ini kepada gurunya. Atau mereka semua adalah perokok , sehingga tidak ada yang mau melaporkan. Istilahnya MENJEGA SELERA NASIONAL.

Jika ini yang terjadi, maka jelas telah terjadi pergeseran moral yang sangat berbahaya, di lingkungan sekolah. Khususnya para guru, mengapa mereka berdiam diri...?

 

 

Generasi muda kita di giring ke dalam kehancuran. Ini baru rokok, bagaimana dengan pacaran, bagaimana dengan narkoba, bagaimana dengan pelecehan seksual. Masih segar dalam ingatan kita beberapa hari yang lalu beberapa pelajar SMA di tangkap karena berpesta sex dan bikini disebuah rumah selepas pelaksanaan UN, masih ingat didalam ingatan kita sebuah video mesum pelajar SMP disebuah sekolah ternama dijakarta. Dan masih jelas dibenak kita kecurangan kecurangan pelaksana UN, masih segar didalam darah kita muncul skandal guru atau dosen yang meluluskan skripsi dengan syarat siswi dan mahasiswi mau di gagahi pak guru yang merasa seperti MAS GAGAH.

 

 

 

Semua kejadian ini memunculkan pertanyaan besar dikepala saya ...?

Apa yang salah dengan Dunia pendidikan kita ..?

Apa Solusinya....?

 

 

 

Coba yuk kita analisa.

 

1.       Dalam sehari anak anak sekolah menghabiskan waktu normal belajar adalah 10 jam 2 jam istirahat jadi total 8 jam

2.       Dalam seminggu mereka belajar menjadi 48 jam

3.       Dalam seminggu pelajaran agama ada 2 x 2 jam pelajaran

4.       Maka dalam seminggu ada 4 pelajaran agama

5.       Dari 48 jam waktu belajar hanya  4 jam mereka belajar agama

6.       Bisakah merubah akhlak dan memberikan pemahamman agama hanya dengan tempo waktu 4 jam perminggu ...?

 

Ingat wahai bapak ibu guru dan orang tua, jangan sekali kali mengabaikan agama dalam dunia pendidikan anak anak kita. Agama itu Muraja’ah (pengulangan), itulah hakikat pelajaran agam yakni pengulangan , mengulang.

 

Yuk kita analisa sekali lagi

 

1.        Kita sholat 5 x sehari yang wajib, 3x sunnah mahabbah (thajjud, Dhuha, Witir), 8 x sunah rawatib jika digabungkan semua itu menjadi 16 x.  Maka dalam sehari kita mengulang ngulang shalat sebanyak 16x

2.       Kita membaca Al Quran , dan menghapalnya dan menjadikan nya bacaan sholat adalah pengulangan berkali kali. Makanya tak heran jika ada banyak orang yang mampu menghapal membaca Surah Yasin karena mengulang ngulangnya setiap hari malam kamis selama bertahun tahun dia hidup

3.       Kita puasa sebulan penuh dibulan ramadhan merupakan pengulangan puasa ramadhan sebelumnya

4.       Kita haji thawaf 7x adalah pengulangan berkali kali

5.       Kita di sunnahkan menyisihkan 10% penghasilan kita untuk sedeka, itu juga pengulangan berkali kali dari dzakat.

6.       Kita menghadiri pengajian rutin tiap seminggu sekali , itu adalah pengulangan dari beberapa kajian sebelumnya.

 

 

Bapak dan ibu, serta pembaca semua , ibadah agama kita adalah pengulangan, karena dengan mengulang ulang sebuah perbuatan maka itu akan berubah menjadi kebiasaan. Begitu pula dengan pengajaran dan belajar. Maka jika kita lihat acuan , seorang siswa hanya mendapatkan 4 jam pelajaran dalam seminggu apakah bisa memahami agama  dengan baik dan bisakah akhlaknya jadi baik ...? coba pikirkan....

 

 

Seorang guru agama dituntut mampu mengajarkan sebuah buku modul yang diberikan pemerintah dan pihak sekolah untuk diajarkan dalam jangka 2 semester dengan waktu 4 jam perminggu. Karena mengejar target deadline, kebanyakan guru agama disekolah sekolah akhirnya mengajarkan sebuah ilmu tanpa ada pengulangan. Bayangkan sebuah modul setebal 800 halaman dengan 30 bab harus diselesaikan dalam setahun pelajaran dengan durasi 4 jam seminggu. Adakah waktu untuk muraja’ah (pengulangan)  ilmu ...?

 

 

Karena mengejar target setiap guru agama disekolah sekolah (non Agama) setiap pertemuan pasti membahas judul baru tanpa pernah tahu apakah siswa siswinya sudah memahammi apa yang  Sang Guru ajarkan sebelumnya. Maka oleh karena sebab itulah akhirnya, generasi muda kita sukses dijauhkan dari agama . pendidikan sekuler menciptakan manusia manusia yang tidak berbobot sedikit pun.

 

 

 

Pada Suatu hari ada seorang pemuda  yang memiliki hapalan yang sangat kuat menjumpai Imam Malik rahimahullah , dan ingin berguru serta mempelajari kitab fenomenal karya Imam Malik yang berjudul Al Muwatha. Nah selang 4 hari pemuda itu datang dan berkata “Wahai Imam malik aku sudah menghapal semua isi kitab mu dan memahamminya” lalu apa yang dikatakan imam malik ...?

Apakah beliau memujinya ..? tidak sama sekali. Imam Malik berkata

 

“ Kau tidak akan mungkin memahammi seluruh isi kitab yang ditulis seorang ulama selama 60 tahun hanya dalam waktu 4 hari”

 

 

 

Apa arti dari perkataan Imam malik tersebut ...? artinya Ilmu agama tidak bisa dipahami dengan tergesa gesa dan sekaligus, Ilmu agama bisa dipahami dengan pelan pelan dan pengulangan (muraja’ah) , maka seusai perkataan Imam malik, Pantaslah anak anak ita tidak ada yang memahami agama dan rusak moralnya karena mereka belajar agama hanya 4 jam seminggu dan tanpa ada pengulangan sedikitpun, karena terbatasnya durasi sang guru yang dikejar Deadline.

 

 

Lalu apa solusinya ...?

 

Jika bapak ibu telah telanjur menyekolahkan anak disekolah sekolah sekuler. Maka coba bapak ibu membuat pengajian dirumah, sanga bapak usahakan maghrib ada dirumah mengajak anak istri jamaah di masjid. Atau bapak yang jadi imam dirumah shaolat bersama istri dan anak. Nah selesai sholat maghrib , didiklah anak anak kita, ajarkan mereka  Qur’an. Luangkan waktu bapak untuk mereka , jangan habiskan waktu bapak di kedai kopi, membicarakan kabinet jokowi. Sungguh tidak ada faidahnya. begitu pula sang ibu, jika suami kerja hingga larut malam, luangkan waktu untuk shalat bersama anak, ajarkan anak agama , rutinkan setiap ba’da maghrib. Ajarkan dia Al Quran. Ceritakan dkisah kisah nabi dan sahabat nabi.

 

 

Dorong mereka untuk aktif di remaja Masjid. Ikut organisasi keislaman, perhatikan siapa temannya, jaga dia dari pergaulan bebas. Ketika sekolah sudah tidak bisa memberikan apa yang baik untuk anak , maka Ibu adalah Madrasah sesungguhnya bagi anak anak kita. Dan seorang ayah adalah teladan untuk setiap anak anak kita. Jadilah seorang ayah dan ibu yang merupakan teman akrab anak kita. Jangan sampai Rokok, narkoba, Free Sex menjadi teman akrab anak anak kita

 

 

 

Tulisan ini hanya nasihat bagi kita semua dan merupakan amanah bagi saya untuk menyampaikannya.