Ketika Rokok Menjadi Sahabat
Pelajar
Cerita ini berawal dari saat
saya sedang menempel ban becak di sebuah bengkel yang berada di jalan Joshua ,
daerah serdang. Kota medan. hari itu ban becak saya bocor , maka saya
memutuskan mendorongnya menuju kebengkel dan menambal ban becak saya tersebut
disebuah bengkel. Dan kebetulan bengkel itu terletak berhadap hadapan dengan
sebuah sekolah swasta yakni sekolah Perguruan YB Joshua. Ketika saya sampai di
lokasi bengkel, saya dapati bengkel di ramekan (dijadikan tempat nongkrong)
oleh beberapa pelajar SMP dan SMA sekolah YB Joshua terebut.
Rata rata mereka disana adalah
siswa kelas 3 yang telah selesai melaksanakan UN, nah karena jadwal pelajaran
yang sudah kosong, mereka dizinkan pulang lebih dini oleh guru guru mereka. Nah
mereka bukannya pulang tapi malah nongkrong di sekitar bengkel yang pemiliknya
seorang keturunan tionghoa, “Acik” seperti itu biasanya Saya memanggil nya. Nah ketika Saya hendak menambal ban becak
yang meletus. Saya harus menunggu lama agar dilayani. Saya pun menunggu , karena
Saya lihat acik begitu sibuk meladeni anak anak SMA dan SMP yang berbelanja di
kios kecil miliknya. Dan ternyata mereka semua berbelanja rokok. Dan acik pun
hanya menjual rokok di bengkel sepedanya.
Saya yang mendapatinya merasa
ganjil. Saya terus memperhatikan, kok acik ini bisa semabarangan menjual rokok
kepada pelajar yang belum cukup umur. Terus kok pihak pengawas sekolah atau
bahkan satpam atau bahkan guru guru tidak ada yang memperhatikan hal ini. Hampir
semua muri murid yang nongkrong dibengkel adalah perokok. Dan diantara mereka ada
yang merupakan perokok berat, bisa dilihat dari bibirnya yang hitam kebiru
biruan dan gigi yang kuning. Melihat kondisi ini saya hanya bisa gelen geleng
kepala.
Saya bertanya pada diri saya
sendiri saat itu, apakah sudah begitu rusak kah generasi muda indonesia ?
sehingga mereka dengan mudahnya merokok dengan bebasa tanpa ada rasa takut dan
segan merokok di depan orang dewasa. Ini sebuah kontradiksi yang sangat
kontradiktif menurut saya. Lihatlah beberapa point ini.
1. Mereka semua pelajar SMP
dan SMA , nah rata rata mereka umur 13 sampai dengan 18 tahun. Mereka sudah
menjadi perokok aktif.
2. Mereka tidak lagi merokok sembunyi sembunyi, tepat didepan
sekolah mereka merokok, dan lagi lagi guru guru mereka tidak peduli dengan ini.
3. Apakah mungkin guru guru tidak tahu kalau murid muridnya tidak
merokok..? Dulu dijaman saya sekolah, ketika ada sebagain teman saya merokok
dnegan sembunyi sembunyi didalam toilet. Dan jika ketahuan apa lagi oleh siswa
perempuan, pasati mulut mereka nyanyi sampai keruang guru dan di berilah hukuman.
Nah
bagaimana mungkin disekolah yang sebegitu besar tidak ada satupun siswa yang
melaporkan tindakkan teman temannya kepada guru mereka ...? kemana para siswi
wanita yang biasa bawel dan suka melaporkan kebandelan laki laki kepada
gurunya. Apakah bagi kawan kawan mereka merokok dengan seragam sekolah, di usia
muda, didepan umum sudah merupakan sesuatu yang lumrah ..? sesuatu yang biasa
saja...? sehingga mereka merasa tidak perlu melaporkan perihal ini kepada
gurunya. Atau mereka semua adalah perokok , sehingga tidak ada yang mau
melaporkan. Istilahnya MENJEGA SELERA NASIONAL.
Jika ini
yang terjadi, maka jelas telah terjadi pergeseran moral yang sangat berbahaya,
di lingkungan sekolah. Khususnya para guru, mengapa mereka berdiam diri...?
Generasi
muda kita di giring ke dalam kehancuran. Ini baru rokok, bagaimana dengan
pacaran, bagaimana dengan narkoba, bagaimana dengan pelecehan seksual. Masih segar
dalam ingatan kita beberapa hari yang lalu beberapa pelajar SMA di tangkap
karena berpesta sex dan bikini disebuah rumah selepas pelaksanaan UN, masih
ingat didalam ingatan kita sebuah video mesum pelajar SMP disebuah sekolah
ternama dijakarta. Dan masih jelas dibenak kita kecurangan kecurangan pelaksana
UN, masih segar didalam darah kita muncul skandal guru atau dosen yang
meluluskan skripsi dengan syarat siswi dan mahasiswi mau di gagahi pak guru
yang merasa seperti MAS GAGAH.
Semua
kejadian ini memunculkan pertanyaan besar dikepala saya ...?
Apa yang
salah dengan Dunia pendidikan kita ..?
Apa
Solusinya....?
Coba yuk
kita analisa.
1. Dalam sehari anak anak sekolah menghabiskan waktu normal belajar
adalah 10 jam 2 jam istirahat jadi total 8 jam
2. Dalam seminggu mereka belajar menjadi 48 jam
3. Dalam seminggu pelajaran agama ada 2 x 2 jam pelajaran
4. Maka dalam seminggu ada 4 pelajaran agama
5. Dari 48 jam waktu belajar hanya
4 jam mereka belajar agama
6. Bisakah merubah akhlak dan memberikan pemahamman agama hanya
dengan tempo waktu 4 jam perminggu ...?
Ingat wahai bapak ibu guru dan
orang tua, jangan sekali kali mengabaikan agama dalam dunia pendidikan anak
anak kita. Agama itu Muraja’ah (pengulangan), itulah hakikat pelajaran agam
yakni pengulangan , mengulang.
Yuk kita analisa sekali lagi
1. Kita sholat 5 x sehari
yang wajib, 3x sunnah mahabbah (thajjud, Dhuha, Witir), 8 x sunah rawatib jika
digabungkan semua itu menjadi 16 x. Maka
dalam sehari kita mengulang ngulang shalat sebanyak 16x
2. Kita membaca Al Quran , dan menghapalnya dan menjadikan nya
bacaan sholat adalah pengulangan berkali kali. Makanya tak heran jika ada
banyak orang yang mampu menghapal membaca Surah Yasin karena mengulang
ngulangnya setiap hari malam kamis selama bertahun tahun dia hidup
3. Kita puasa sebulan penuh dibulan ramadhan merupakan pengulangan
puasa ramadhan sebelumnya
4. Kita haji thawaf 7x adalah pengulangan berkali kali
5. Kita di sunnahkan menyisihkan 10% penghasilan kita untuk sedeka,
itu juga pengulangan berkali kali dari dzakat.
6. Kita menghadiri pengajian rutin tiap seminggu sekali , itu
adalah pengulangan dari beberapa kajian sebelumnya.
Bapak dan ibu, serta pembaca
semua , ibadah agama kita adalah pengulangan, karena dengan mengulang ulang
sebuah perbuatan maka itu akan berubah menjadi kebiasaan. Begitu pula dengan
pengajaran dan belajar. Maka jika kita lihat acuan , seorang siswa hanya
mendapatkan 4 jam pelajaran dalam seminggu apakah bisa memahami agama dengan baik dan bisakah akhlaknya jadi baik
...? coba pikirkan....
Seorang guru agama dituntut
mampu mengajarkan sebuah buku modul yang diberikan pemerintah dan pihak sekolah
untuk diajarkan dalam jangka 2 semester dengan waktu 4 jam perminggu. Karena mengejar
target deadline, kebanyakan guru agama disekolah sekolah akhirnya mengajarkan
sebuah ilmu tanpa ada pengulangan. Bayangkan sebuah modul setebal 800 halaman
dengan 30 bab harus diselesaikan dalam setahun pelajaran dengan durasi 4 jam
seminggu. Adakah waktu untuk muraja’ah (pengulangan) ilmu ...?
Karena mengejar target setiap
guru agama disekolah sekolah (non Agama) setiap pertemuan pasti membahas judul
baru tanpa pernah tahu apakah siswa siswinya sudah memahammi apa yang Sang Guru ajarkan sebelumnya. Maka oleh
karena sebab itulah akhirnya, generasi muda kita sukses dijauhkan dari agama .
pendidikan sekuler menciptakan manusia manusia yang tidak berbobot sedikit pun.
Pada Suatu hari ada seorang
pemuda yang memiliki hapalan yang sangat
kuat menjumpai Imam Malik rahimahullah , dan ingin berguru serta mempelajari kitab
fenomenal karya Imam Malik yang berjudul Al Muwatha. Nah selang 4 hari pemuda
itu datang dan berkata “Wahai Imam malik aku sudah menghapal semua isi kitab mu
dan memahamminya” lalu apa yang dikatakan imam malik ...?
Apakah beliau memujinya ..?
tidak sama sekali. Imam Malik berkata
“ Kau tidak
akan mungkin memahammi seluruh isi kitab yang ditulis seorang ulama selama 60
tahun hanya dalam waktu 4 hari”
Apa arti dari perkataan Imam
malik tersebut ...? artinya Ilmu agama tidak bisa dipahami dengan tergesa gesa
dan sekaligus, Ilmu agama bisa dipahami dengan pelan pelan dan pengulangan
(muraja’ah) , maka seusai perkataan Imam malik, Pantaslah anak anak ita tidak
ada yang memahami agama dan rusak moralnya karena mereka belajar agama hanya 4
jam seminggu dan tanpa ada pengulangan sedikitpun, karena terbatasnya durasi sang
guru yang dikejar Deadline.
Lalu apa solusinya ...?
Jika bapak ibu telah telanjur
menyekolahkan anak disekolah sekolah sekuler. Maka coba bapak ibu membuat
pengajian dirumah, sanga bapak usahakan maghrib ada dirumah mengajak anak istri
jamaah di masjid. Atau bapak yang jadi imam dirumah shaolat bersama istri dan
anak. Nah selesai sholat maghrib , didiklah anak anak kita, ajarkan mereka Qur’an. Luangkan waktu bapak untuk mereka ,
jangan habiskan waktu bapak di kedai kopi, membicarakan kabinet jokowi. Sungguh
tidak ada faidahnya. begitu pula sang ibu, jika suami kerja hingga larut malam,
luangkan waktu untuk shalat bersama anak, ajarkan anak agama , rutinkan setiap
ba’da maghrib. Ajarkan dia Al Quran. Ceritakan dkisah kisah nabi dan sahabat
nabi.
Dorong mereka untuk aktif di
remaja Masjid. Ikut organisasi keislaman, perhatikan siapa temannya, jaga dia
dari pergaulan bebas. Ketika sekolah sudah tidak bisa memberikan apa yang baik
untuk anak , maka Ibu adalah Madrasah sesungguhnya bagi anak anak kita. Dan
seorang ayah adalah teladan untuk setiap anak anak kita. Jadilah seorang ayah
dan ibu yang merupakan teman akrab anak kita. Jangan sampai Rokok, narkoba,
Free Sex menjadi teman akrab anak anak kita
Tulisan ini hanya nasihat bagi
kita semua dan merupakan amanah bagi saya untuk menyampaikannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar