Sabtu, 13 Juni 2015

Haramkah copy paste dalam berdakwah di sosial media?

Haramkah copy paste Dalam Dakwah di sosial media?


Bismillahirrahmanirrahiim

Selamat pagi akhy wa ukhti
Subhanallah semoga hidayah dan rahmat Allah selalui menyertai kalian semua. Dan dibukan Allah segala pintu rezeki dan dipanjang usia yang senantiasa bermanfaat untuk kebaikan.



Seperti apa yang saya janjikan beberapa hari yang lalu tentang tulisan ini. Maka hari ini saya akan menuliskan pendapat dan pandangan saya kepada para pembaca semua tentang status copy paste dalam dakwah apakah di bolehkan atau dilarang.


Awalnya ide tulisan ini adalah ketika saya menyimak dan menyaksikan bahkan pernah terlibat pada perdebatan (yang sekarang saya hindari), ada sebagian orang ketika berdebat menemukan lawan debatnya yang fasih mengeluarkan Dalil. Dia langsung mematikan langkah lawan debatnya dengan ungkapan "Ah, belajar agama dari google aja sok kali", "Ah paling bisanya Cuma copas, copas dari blog blog gak jelas, nahwu aja gak pernah belajar sok mau berdalil"


Saya disini bukan untuk membela yang berpendapat atau bahasa kasarnya PAMER DALIL dalam perdebatan agama di dunia maya, biasanya sering terjadia facebook. Saya hanya berusaha meluruskan bahwasanya pendapat seperti ini menjadi paradigma baru dalam dunia dakwah bahwasanya copy paste itu adalah bukan dalil yang shahih , meski muatan hadits yang melekat itu shahih secara mutawatir pula. Seakan akan copy paste itu adalah suatu keharaman mutlak bagi seorang da'i. Nah biasanya mereka yang kena hujatan copas ini pun akhirnya tak mau kalah dan terus menghujani mereka yang menghujat ini dengan dalil dali yang seakan dipaksakan. Disinilah keburukan debat, manusia menjadi ujub pada dirinya sendiri, enggan dipermalukan di sosial media dan sebiasa mungkin membungkam lawan debatnya dengan berjuta juta dalil yang terkesan dipaksakan bahkan tidak sesuai dengan apa yang menjadi bahan perdebatan. Tidak pelak akhir akhir nya perdebatan ini menjadi ajang salnig caci maki dan umpata umpatan kotor dari mereka yang menamakan diri mereka dengan sebuatan muslimin Ahlus sunnah Waljamaah.



Oke saudara saudara ku jika menemukan perdebatan seperti itu harus kita out dari lapak lapak mereka. Saya akui dulu pun saya begitu namun semakin saya belajar, saya semakin tahu kebobrokan semua itu saya semakin menghindarinya, cukup lah
 bagi saya menghadirkan satu buah dalil jika mereka tidak terima, maka saya serahkan semuanya kepada Allah subhana wata'ala, karena hidayah hanya ada ditanganya bukan ditangan saya.



Oke sekarang kita masuk ke pembahasan yang saya janjikan kepada ukhti wak akhy semua, yakni tentang HARAM KAH COPY PASTE DALAM DUNIA DAKWAH MELALUI TULISAN DI SOSIAL MEDIA?


 Mari coba kita telah pelan pelan satu persatu apa itu yang dinamakan copy paste.


Copy = berarti menyalin 
Paste = berarti Tempel

Jadi secara istilah dalam dunia penulisan bahkan dunia komputer copy paste adalah sebuah tindakan menyalin secara utuh semua file yang diperlukan dan menempelkannya kembali file tersebut di media lain dengan tujuan di publikasikan ulang.


Kalau bahasa sederhananya, kita menyalin sebuah tulisan tanpa ada perubahan sedikit pun dan mempublikasikan ulang sebuah tulisan.


Hal yang perlu kita ketahui adalah:
Setiap segala sesuatu yang di copy paste berarti tidak orisinil
Setiap karya orisinil setidaknya mengcopy paste karya sebelumnya.
Dalam mengcopy paste harus mengikuti etika yakni menuliskan sumbernya,

Dari 3 kaidah diatas dapat disimpulkan memang tidak ada satu pun karya yang benar benar orisinil, karena semuanya tidak lepas dari budaya copy paste, bahkan tulisan yang yang katanya orisinil pun tetap ada copy paste didalamnya dalam bentuk kutipan ilmiah para ahli, kata kata pujangga ternama bahkan hadist hadist nabi serta ayat ayat Al Quran.


Nah lalu sekarang ayuk mari kita kaitkan budaya copy paste dalam dakwah, apakah copy paste termasuk sesuatu yang tercela bahkan dipandang buruk ...?
Ayuk mari kita renungkan ...

Menurut arti yang telah kita ketahui bersama copy memiliki arti menyalin secara utuh tanpa ada perubahan pada objek yang akan disalin.

Maka perhatikan ..

Al Qur'an diturunkan Dari Allah, melalui Jibril kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam. Apa yang dicuapkan Allah / Kalamullah di dengar malaikat jibril, dan disampaikan kepada rasulullah tanpa ada pengurangan dan perubahan sedikitpun inilah yang dinamakan WAHYU, lalu Wahyu disampaikan Rasulullah kepada sahabat / umat tanpa ada pengurangan dan perubahan sedikit pun, begitu pula seterusnya, dari sahabat kemudia wahyu yang berupa perkataan, di salin / Copy ke atas kertas dan dibentuk menjadi mushaf (PASTE), dari para sahabat, mushaf di perbanyak (COPY) dan disebarkan (PASTE) hingga sampai ke tangan kita generasi sekarang tanpa ada perubahan sedikit pun.


Lalu kemudian kita bisa melihat dari hadits hadits, yang merupakan perkataan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, Hadits adalah perinci masalah masalah ibadah yang dijelaskan secara garis besar saja didalam Al Qur'an. Maka hadits juga berasal dari mulut Rasulullah, didengarkan sahabat, kemudia sahabat mengajarkannyakepada tabi'in tanpa ada pengurangan sedikit pun (Copy), dan para tabi'in menuliskan setiap hadits tersebut dan membentuk sebuah kitab, yang akhirnya ada 9 kitab hadits (Paste). Nah para murid tabi'in yakni tabi'ut tabi'ina menyebarkan kitab kitab hadits ini (copy) dan memperbanyaknya hingga sampai umat zaman ini, dan setiap kata Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam di kutip dan di ambil dalam berbagai kitab kitab fiqih (Paste) .



Begitu pula dengan kitab kitab fiqih dan seterusnya apa yang ada didalamnya diambil dan di kutip hingga menjadi kitab baru. Maka ini juga copy paste.


Dari sini kita bisa belajar, bahwasanya budaya copy paste sudah diterapkan Allah dan RasulNya. Dengan cara inilah ke otentikan Al Quran terjaga, dengan cara inilah sebuah hadits bisa diketahui sanad nya dan ditetapkan sebuah hadits itu hukumnya Shahih, Shahih mutsabit, Shahih Nafi, Shahih Mursal, Hasan Shahih, Hasah Gharib, Dhaif, dan Maudhu.



Maka apakah lantas copy paste itu haram ...?

Jawabanya tidak wahai saudara saudari ku.


Hanya saja dalam berdakwah menggunakan media tulisan di sosial media harus bahan yang akan di copy paste ini adalah bahan yang bisa dipercaya, berasal dari website profesional, atau dari blog para dai yang telah diketahui kualitas keilmuannya. 

Banyak dari mereka yang meremehkan copy paste ini adalah karena tidak mengetahui hakikatnya.  


Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang maha menciptakan
(Qs Al 'Alaq 1)

Wahai Orang yang berselimut, bangunlah!, Lalu berilah peringatan
(Qs Al Muddatsir 1-2) 

Ayat pertama yang merupakan wahyu pertama adalah perintah membaca yang artinya menerima, menyalin wahyu kedalam hati sebagaimanayang diajarkan Malaikat Jibril tanpa ada pengurangan dan penambahan. Lalu ayat yang kedua surah Al Muddtsir ayat 1-2 yang merupakan wahyu kedua yang turun adalah perintah menyebarkan brosur dan memberi peringatan, dalam arti ini adalah Paste. Maka sesungguhnya budaya copy dan paste atau bahsa anak gaulnya adalaha Copas. Sudah dilakukan dan dipraktikan oleh nabi besar kita yakni Rasulullah Muhammad Al Mustafa bin abdullah bin abdul munthalib Shalallahu 'alaihi wasallam



Copy paste bukanlah hal yang tercela, justru karena mereka tidak memiliki ilmu, makanyamereka yang berdakwah di sosial media, mengcopy paste kata kata ulama ulama yang juga mengcopy paste kata perakataan ulama ulama sebelumnya dirinya. Hal ini berlaku ke atas sampai ke Rasululllah, dan inilah yang dinamakan Sanad. Maka beragam dengan dalil harus memiliki sanda sampai kepada Rasulullah. 


Maka oleh karena itu copy paste dapat dilakukan dengan syarat menyantumkan dari mana sumber bahan yang akan di copy paste.


Hendaknya mereka yang melakukan budaya copy paste, harus meneliti dahulu dari mana sumber dalil dalil tyang akan dijadikan hujjah. Maka oleh karena itu di butuhkan bimbingan guru dalam hal ini.


Copy Paste Halal kok kawan kawan ... D 


Minggu, 31 Mei 2015

Ketika Rokok Jadi Sahabat Pelajar


Ketika Rokok Menjadi Sahabat Pelajar

 




Cerita ini berawal dari saat saya sedang menempel ban becak di sebuah bengkel yang berada di jalan Joshua , daerah serdang. Kota medan. hari itu ban becak saya bocor , maka saya memutuskan mendorongnya menuju kebengkel dan menambal ban becak saya tersebut disebuah bengkel. Dan kebetulan bengkel itu terletak berhadap hadapan dengan sebuah sekolah swasta yakni sekolah Perguruan YB Joshua. Ketika saya sampai di lokasi bengkel, saya dapati bengkel di ramekan (dijadikan tempat nongkrong) oleh beberapa pelajar SMP dan SMA sekolah YB Joshua terebut.

 

 

 

Rata rata mereka disana adalah siswa kelas 3 yang telah selesai melaksanakan UN, nah karena jadwal pelajaran yang sudah kosong, mereka dizinkan pulang lebih dini oleh guru guru mereka. Nah mereka bukannya pulang tapi malah nongkrong di sekitar bengkel yang pemiliknya seorang keturunan tionghoa, “Acik”  seperti itu biasanya Saya memanggil nya.  Nah ketika Saya hendak menambal ban becak yang meletus. Saya harus menunggu lama agar dilayani. Saya pun menunggu , karena Saya lihat acik begitu sibuk meladeni anak anak SMA dan SMP yang berbelanja di kios kecil miliknya. Dan ternyata mereka semua berbelanja rokok. Dan acik pun hanya menjual rokok di bengkel sepedanya.

 

 

Saya yang mendapatinya merasa ganjil. Saya terus memperhatikan, kok acik ini bisa semabarangan menjual rokok kepada pelajar yang belum cukup umur. Terus kok pihak pengawas sekolah atau bahkan satpam atau bahkan guru guru tidak ada yang memperhatikan hal ini. Hampir semua muri murid yang nongkrong dibengkel adalah perokok. Dan diantara mereka ada yang merupakan perokok berat, bisa dilihat dari bibirnya yang hitam kebiru biruan dan gigi yang kuning. Melihat kondisi ini saya hanya bisa gelen geleng kepala.

 

 

Saya bertanya pada diri saya sendiri saat itu, apakah sudah begitu rusak kah generasi muda indonesia ? sehingga mereka dengan mudahnya merokok dengan bebasa tanpa ada rasa takut dan segan merokok di depan orang dewasa. Ini sebuah kontradiksi yang sangat kontradiktif menurut saya. Lihatlah  beberapa point ini.

1.        Mereka semua pelajar SMP dan SMA , nah rata rata mereka umur 13 sampai dengan 18 tahun. Mereka sudah menjadi perokok aktif.

2.       Mereka tidak lagi merokok sembunyi sembunyi, tepat didepan sekolah mereka merokok, dan lagi lagi guru guru mereka tidak peduli dengan ini.

3.       Apakah mungkin guru guru tidak tahu kalau murid muridnya tidak merokok..? Dulu dijaman saya sekolah, ketika ada sebagain teman saya merokok dnegan sembunyi sembunyi didalam toilet. Dan jika ketahuan apa lagi oleh siswa perempuan, pasati mulut mereka nyanyi sampai keruang guru dan di berilah hukuman.

Nah bagaimana mungkin disekolah yang sebegitu besar tidak ada satupun siswa yang melaporkan tindakkan teman temannya kepada guru mereka ...? kemana para siswi wanita yang biasa bawel dan suka melaporkan kebandelan laki laki kepada gurunya. Apakah bagi kawan kawan mereka merokok dengan seragam sekolah, di usia muda, didepan umum sudah merupakan sesuatu yang lumrah ..? sesuatu yang biasa saja...? sehingga mereka merasa tidak perlu melaporkan perihal ini kepada gurunya. Atau mereka semua adalah perokok , sehingga tidak ada yang mau melaporkan. Istilahnya MENJEGA SELERA NASIONAL.

Jika ini yang terjadi, maka jelas telah terjadi pergeseran moral yang sangat berbahaya, di lingkungan sekolah. Khususnya para guru, mengapa mereka berdiam diri...?

 

 

Generasi muda kita di giring ke dalam kehancuran. Ini baru rokok, bagaimana dengan pacaran, bagaimana dengan narkoba, bagaimana dengan pelecehan seksual. Masih segar dalam ingatan kita beberapa hari yang lalu beberapa pelajar SMA di tangkap karena berpesta sex dan bikini disebuah rumah selepas pelaksanaan UN, masih ingat didalam ingatan kita sebuah video mesum pelajar SMP disebuah sekolah ternama dijakarta. Dan masih jelas dibenak kita kecurangan kecurangan pelaksana UN, masih segar didalam darah kita muncul skandal guru atau dosen yang meluluskan skripsi dengan syarat siswi dan mahasiswi mau di gagahi pak guru yang merasa seperti MAS GAGAH.

 

 

 

Semua kejadian ini memunculkan pertanyaan besar dikepala saya ...?

Apa yang salah dengan Dunia pendidikan kita ..?

Apa Solusinya....?

 

 

 

Coba yuk kita analisa.

 

1.       Dalam sehari anak anak sekolah menghabiskan waktu normal belajar adalah 10 jam 2 jam istirahat jadi total 8 jam

2.       Dalam seminggu mereka belajar menjadi 48 jam

3.       Dalam seminggu pelajaran agama ada 2 x 2 jam pelajaran

4.       Maka dalam seminggu ada 4 pelajaran agama

5.       Dari 48 jam waktu belajar hanya  4 jam mereka belajar agama

6.       Bisakah merubah akhlak dan memberikan pemahamman agama hanya dengan tempo waktu 4 jam perminggu ...?

 

Ingat wahai bapak ibu guru dan orang tua, jangan sekali kali mengabaikan agama dalam dunia pendidikan anak anak kita. Agama itu Muraja’ah (pengulangan), itulah hakikat pelajaran agam yakni pengulangan , mengulang.

 

Yuk kita analisa sekali lagi

 

1.        Kita sholat 5 x sehari yang wajib, 3x sunnah mahabbah (thajjud, Dhuha, Witir), 8 x sunah rawatib jika digabungkan semua itu menjadi 16 x.  Maka dalam sehari kita mengulang ngulang shalat sebanyak 16x

2.       Kita membaca Al Quran , dan menghapalnya dan menjadikan nya bacaan sholat adalah pengulangan berkali kali. Makanya tak heran jika ada banyak orang yang mampu menghapal membaca Surah Yasin karena mengulang ngulangnya setiap hari malam kamis selama bertahun tahun dia hidup

3.       Kita puasa sebulan penuh dibulan ramadhan merupakan pengulangan puasa ramadhan sebelumnya

4.       Kita haji thawaf 7x adalah pengulangan berkali kali

5.       Kita di sunnahkan menyisihkan 10% penghasilan kita untuk sedeka, itu juga pengulangan berkali kali dari dzakat.

6.       Kita menghadiri pengajian rutin tiap seminggu sekali , itu adalah pengulangan dari beberapa kajian sebelumnya.

 

 

Bapak dan ibu, serta pembaca semua , ibadah agama kita adalah pengulangan, karena dengan mengulang ulang sebuah perbuatan maka itu akan berubah menjadi kebiasaan. Begitu pula dengan pengajaran dan belajar. Maka jika kita lihat acuan , seorang siswa hanya mendapatkan 4 jam pelajaran dalam seminggu apakah bisa memahami agama  dengan baik dan bisakah akhlaknya jadi baik ...? coba pikirkan....

 

 

Seorang guru agama dituntut mampu mengajarkan sebuah buku modul yang diberikan pemerintah dan pihak sekolah untuk diajarkan dalam jangka 2 semester dengan waktu 4 jam perminggu. Karena mengejar target deadline, kebanyakan guru agama disekolah sekolah akhirnya mengajarkan sebuah ilmu tanpa ada pengulangan. Bayangkan sebuah modul setebal 800 halaman dengan 30 bab harus diselesaikan dalam setahun pelajaran dengan durasi 4 jam seminggu. Adakah waktu untuk muraja’ah (pengulangan)  ilmu ...?

 

 

Karena mengejar target setiap guru agama disekolah sekolah (non Agama) setiap pertemuan pasti membahas judul baru tanpa pernah tahu apakah siswa siswinya sudah memahammi apa yang  Sang Guru ajarkan sebelumnya. Maka oleh karena sebab itulah akhirnya, generasi muda kita sukses dijauhkan dari agama . pendidikan sekuler menciptakan manusia manusia yang tidak berbobot sedikit pun.

 

 

 

Pada Suatu hari ada seorang pemuda  yang memiliki hapalan yang sangat kuat menjumpai Imam Malik rahimahullah , dan ingin berguru serta mempelajari kitab fenomenal karya Imam Malik yang berjudul Al Muwatha. Nah selang 4 hari pemuda itu datang dan berkata “Wahai Imam malik aku sudah menghapal semua isi kitab mu dan memahamminya” lalu apa yang dikatakan imam malik ...?

Apakah beliau memujinya ..? tidak sama sekali. Imam Malik berkata

 

“ Kau tidak akan mungkin memahammi seluruh isi kitab yang ditulis seorang ulama selama 60 tahun hanya dalam waktu 4 hari”

 

 

 

Apa arti dari perkataan Imam malik tersebut ...? artinya Ilmu agama tidak bisa dipahami dengan tergesa gesa dan sekaligus, Ilmu agama bisa dipahami dengan pelan pelan dan pengulangan (muraja’ah) , maka seusai perkataan Imam malik, Pantaslah anak anak ita tidak ada yang memahami agama dan rusak moralnya karena mereka belajar agama hanya 4 jam seminggu dan tanpa ada pengulangan sedikitpun, karena terbatasnya durasi sang guru yang dikejar Deadline.

 

 

Lalu apa solusinya ...?

 

Jika bapak ibu telah telanjur menyekolahkan anak disekolah sekolah sekuler. Maka coba bapak ibu membuat pengajian dirumah, sanga bapak usahakan maghrib ada dirumah mengajak anak istri jamaah di masjid. Atau bapak yang jadi imam dirumah shaolat bersama istri dan anak. Nah selesai sholat maghrib , didiklah anak anak kita, ajarkan mereka  Qur’an. Luangkan waktu bapak untuk mereka , jangan habiskan waktu bapak di kedai kopi, membicarakan kabinet jokowi. Sungguh tidak ada faidahnya. begitu pula sang ibu, jika suami kerja hingga larut malam, luangkan waktu untuk shalat bersama anak, ajarkan anak agama , rutinkan setiap ba’da maghrib. Ajarkan dia Al Quran. Ceritakan dkisah kisah nabi dan sahabat nabi.

 

 

Dorong mereka untuk aktif di remaja Masjid. Ikut organisasi keislaman, perhatikan siapa temannya, jaga dia dari pergaulan bebas. Ketika sekolah sudah tidak bisa memberikan apa yang baik untuk anak , maka Ibu adalah Madrasah sesungguhnya bagi anak anak kita. Dan seorang ayah adalah teladan untuk setiap anak anak kita. Jadilah seorang ayah dan ibu yang merupakan teman akrab anak kita. Jangan sampai Rokok, narkoba, Free Sex menjadi teman akrab anak anak kita

 

 

 

Tulisan ini hanya nasihat bagi kita semua dan merupakan amanah bagi saya untuk menyampaikannya.